Tanggamus -Media Rakyat Bersatu Ungkapan Reendi Hafiz – Pemerhati Lingkungan, Lampung Kepada Media Rakyat

 

Mari kita luruskan sejak awal hujan bukan kriminal langit. Tapi entah kenapa, setiap banjir datang, “dia” yang selalu diseret ke ruang interogasi. Seolah curah hujan punya strategi makar. Padahal yang memberi izin membangun rumah di bantaran sungai siapa? Yang membuka hutan tanpa rem siapa? Yang menunda perbaikan drainase bertahun-tahun siapa?

Benar bukan awan cumulonimbus.

 

Di Kelurahan Pasar Madang, Kabupaten Tanggamus, air kembali mengamuk. Talud jebol, drainase mampet, sungai dipersempit oleh tangan-tangan yang menganggap alam adalah aset yang bisa dipotong per meter. Namun begitu bencana terjadi, narasinya selalu seragam.

“Ini anomali cuaca… intensitas hujan tinggi… fenomena alam.”

Klasik. Aman. Tidak menyinggung siapa pun yang seharusnya bertanggung jawab.

 

Padahal di sisi lain, fakta berbicara jauh lebih keras daripada retorika.

Data yang Tidak Bisa Ditutupin oleh Kalimat Manis Menurut BNPB (4/12):

776 meninggal

564 hilang

Rinciannya:

Aceh: 277 meninggal, 193 hilang

Sumatera Utara: 299 meninggal, 159 hilang

Sumatera Barat: 200 meninggal, 212 hilang

 

Angka-angka itu bukan “kejadian alam biasa”.

Itu hasil dari tahun-tahun pembiaran yang dibungkus kata-kata manis bernama pembangunan.

 

Sampai-sampai Pemerintah Aceh Utara menyerah, menyatakan tidak sanggup menangani bencana di 27 kecamatan dan 852 desa.

Itu bukan kecil.

Itu bukan “musibah musiman”.

Itu alarm nasional yang suaranya sudah serak karena terlalu lama diabaikan.

 

Di Tapanuli Tengah, warga bertahan hidup dengan makan durian.

Di Aceh Tamiang, warga minum air keruh.

Sementara di ruang rapat ber-AC, kita masih sibuk menyusun siapa yang paling “tepat” disalahkan.

 

Setiap bencana besar, muncul selalu ritual yang bisa ditebak.

Perusahaan-perusahaan yang ikut menekan alam tiba-tiba berbaris mengirim bantuan.

Truk logistik datang, beras digelontorkan, spanduk CSR dipasang rapi.

Seolah setelah meraup keuntungan besar, beberapa kardus mie instan bisa menghapus jejak ekologis yang ditinggalkan.

 

“Karma pun dikasih kuitansi,” ujar saya dengan getir.

 

Tidak lama kemudian, para pejabat berdatangan.

Ada yang memakai rompi tebal sampai dikira rompi anti-peluru ternyata pelampung.

Ada yang memikul beras demi konten heroik.

Ada juga yang membagi-bagi bantuan dari atas pesawat yang tentu saja baik, sekaligus sangat baik untuk dokumentasi.

 

Bantuan itu benar, perlu, dan bermanfaat.

Namun kita juga tidak naif.

Bencana adalah panggung visual yang sering dimanfaatkan dengan sangat elegan.

 

Dalam ilmu politik disebut charity performance.

Dalam bahasa jujur: “bantuan plus branding.”

 

Kadang yang terlihat bukan kemanusiaannya, tapi posenya.

Kadang yang terdengar bukan empatinya, melainkan gaung elektabilitasnya.

 

Semoga saja nanti ketika pemilu tiba, suara masyarakat ikut terangkat bersama kamera yang mengabadikan “momen kepedulian”.

 

Setelah itu, muncul kelompok yang mulai memutar kaset lama,

“Ini salah kepemimpinan sebelumnya.”

“Anggarannya dulu kurang.”

“Warisan pemerintah lama jelek.”

Dari pusat sampai kabupaten, narasi ini tidak pernah cuti.

 

Namun pada masa kampanye, visi-misi mereka menggambarkan seolah mereka calon pemimpin alam semesta semua bisa, semua siap. Tapi ketika banjir datang, mendadak semua tidak siap.

 

Jika lingkungan terus dianggap catatan kaki dalam pembangunan, ya beginilah hasilnya,

Kita sibuk mengobati luka setelah bencana, sementara akar penyakitnya dibiarkan membusuk puluhan tahun.

 

Apakah kita tidak bisa melawan alam?

Benar. Tidak bisa.

Tapi kita bisa berdamai dengan alam kalau mau.

Masalahnya, manusia terlalu lama bertingkah seperti penguasa planet, bukan bagian dari ekosistem.

 

Di Pasar Madang, warga tidak menuntut langit berhenti hujan.

Mereka hanya menginginkan hal yang sangat masuk akal,talud diperbaiki,drainase dibenahi,sungai dinormalkan, tata ruang dijalankan,

dan kepentingan ekonomi tidak lagi melindas akal sehat.

 

Sampai itu dilakukan, hujan akan terus dijadikan kambing hitam.

Sementara manusia yang memegang pena kebijakan dan kunci alat berat mencuci tangan tanpa sabun.

 

Dan percayalah, alam tidak butuh marah untuk memberikan pelajaran.

Cukup diam, dan kita sendiri yang akan merasakan akibatnya.

 

Penulis: Rendi Hafiz